Orang yang menasehati penguasa ibarat bercanda dengan singa. Sebagian penasehat dan dai mendengar bahwa al-Fudhail bin ‘Iyadh menasihati Harun ar-Rasyid dan Sufyan ats-Tsaury menasihati Abu Ja’far al-Manshur. Maka mereka ingin melakukan apa yang dilakukan para salaf terhadap para penguasa, mereka lupa bahwa para penguasa itu bukanlah seperti Abu Ja’far al-Manshur dan Harun ar-Rasyid. Semoga Allah merahmati orang yang mengetahui kemampuan dirinya.

Penguasa tidak menerima nasihat di hadapan banyak, karena hal itu akan mematahkan kehormatannya, sedangkan dia tidak mungkin menyendiri dengannya. Kita mendengar bahwa orang yang ingin menasihati penguasa, maka dia harus memujinya dan memuliakannya terlebih dahulu, kemudian menyindir sedikit dengan nasihat, maka kepahitan nasihat akan hilang dengan kemanisannya dan dia tidak pernah selamat dengan kematian.

Di antara mereka ada yang berhubungan dengan penguasa dengan tujuan menasihatinya – dalam dugaannya-, dia mengakhiri nasihat sampai ilmu dan persahabatan terjalin erat, kemudian dia menjadi salah seorang petingginya, dan lupa dengan nasihat dan peringatan. Segala puji bagi Allah SWT atas segala sesuatu, janganlah anda membebani diri, sesungguhnya menghilangkan mafsadah lebit utama dari membawa kemaslahatan.

Ketahuilah, bahwa penasihat masa kita ini, kurang keikhlasannya atau keilmuannya atau hikmahnya atau pengetahuannya tentang tabiat penguasa, sehingga banyak dai terperosok ke dalam kesengsaraan. Janganlah sampai menipu anda perkataan sebagian penasihat. Sesungguhnya mereka menasihati penguasa, dan penguasa menerimanya. Ini disebabkan dia menggoyangkan kepalanya ketika mereka berbicara, maka mereka menduga bahwa dia menerima apa yang dikatakannya.

Ketahuilah, bahwa para penguasa sebagian besar memiliki tipuan dan makar, setelah menasihati maka penasihat yang lugu menduga bahwa dia berhasil menarik pemikiran-pemikiran mereka dengan perkataannya, ini adalah tipuan iblis. Tidaklah kita mendapati seorang alim yang bergabung dengan penguasa dan menjadi salah seorang petingginya, kecuali hilangnya cahaya ilmu, kewibawaan agama, dan kemualiaan wara’. Sejaran menjadi saksi akan hal itu.

 

(Diambil dari buku”Mulia Ketika Hidup dan Mulia Ketika Mati” karangan Dr. ‘Aidh al-Qarni, penerbit: bening)

Original Website: www.nasyids2k.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s