Penyair itu lahir seolah-olah percikan yang memberontak dan meraung, serta menepis keras hawa panas. Dia melangkah seakan-akan gelombang yang menhanyutkan dan menerjang pepohonan, memindahkan bebatuan, memenuhi tempat itu dengan teriakannya, kesakitannya, aumannya, dan pemberontakannya. Dia melantunkan kasidah-kasidahnya dengan raungan, pekikan, tangisan, dan kebijaksanaan.

Dia menghujani para pendengar setiap hari dengan perlawanan-perlawanannya, bantahan-bantahannya, kritikan-kritikannya, serta kemarahan-kemarahannya. Dia menyambar cahaya, menarik semua orang untuk diam mendengarkannya seorang diri, melihat dirinya saja dan memperhatikannya tanpa kecuali.

Kasidah-kasidah itu menggelegak di dalam hatinya, dan dia menyalakannya dengan kepedihan hatinya. Kemudian, dia menuturkannya dengan menakjubkan dan mengherankan, sehingga hampir menggelegakkan wajah dengan panasnya dan membakarnya. Menyusuri kesendirian, memakan kelaparan, memakai kefakiran, menemani keputusasaan, dan hidup bersama kegelapan. Dia mengunjungi para raja untuk memuji mereka, kemudian dia iri dan dengki kepada mereka, lalu dia membalikkan kepada mereka punggung kekerasan dan menjadikan bagian atas istana salah seorang di antara mereka menjadi bagian bawahnya sebagai bentuk pemberontakan, kekeraskepalaan, kekasaran, dan keributan.

Dia memuji para menteri, kemudian dia ingat bahwa dia lebih mulia dari mereka, maka dia menyesal atas apa yang dilakukannya dan bertaubat atas apa yang diperbuatnya, kemudian ia menghapusnya dengan memuji dirinya sendiri, memuliakan pribadinya, menyucikan keutamaannya, dan mengangkat keunggulannya.

Dia adalah penyair yang digigit berbagai krisis, disengat berbagai bencana, dan hatinya dirobek-robek berbagai kesusahan. Dia diam dan diam, kemudian bangkit memekik dan meraung mencela zamannya dan mencaci masanya. Dia tenang dan tenang, kemudian bangkit dri tidurnya seraya memberontak, menentang, dan melawan. Dia adalah Abu ath-Thayyib al-Mutanabi, apakah Anda mengenalnya?

(Dikutip dari buku “Mulia Ketika Hidup dan Mulia Ketika Mati” karya Dr. ‘Aidh al-Qami, penerbit: bening)

Source: www.nasyids2k.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s