Mungkin benar bahwa kebahagiaan itu bersifat subyektif. Ia juga kadang bisa tak disamakan begitu saja dengan kegembiraan atau kesenangan. Sepertinya kebahagiaan itu memang selalu berada di seberang. Karena itu, dalam konstitusi Amerika Serikat, in the pursuit of happiness (pencarian kebahagiaan) adalah hal pokok yang diidamkan oleh warga Abang Sam. Film dengan judul ini pun makin menegaskan kebahagiaan itu memang tak sederhana, meskipun ia tak kemudian mustahil diraih. Pendek kata, kebahagiaan itu nyata dan bisa dirasakan oleh diri kita.

Tapi benarkah kebahagiaan itu melulu tentang benda? Masyarakat Barat yang bergelimang kemewahan pun diterjang kegundahan. Negara-negara makmur di negeri Skandinavia tak mampu menghalangi warganya bunuh diri karena pelbagai alasan. Jadi apakah sebenarnya kebahagiaan itu? Jika hanya merujuk pada kamus Oxford, ia bisa berupa peruntungan yang baik, keberhasilan, dan kemakmuran. Namun apa yang terbersit di benak kita ketika Kurt Cobain, pentolan Nirvana, mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri? Bukankah suami Courtney Love ini telah memperoleh semuanya? Adakah kritik manusia satu dimensi Jean Paul Sartre bisa menjelaskan fenomena tersebut karena orang yang putus asa itu mengalami keterasingan?

Lalu apakah kebahagiaan itu bisa diukur? Michael Foley dalam The Age of Absurdity: Why Modern Life Makes It Hard to Be Happy menjelaskan bahwa Kerajaan Bhutan mendirikan Komisi Kebahagiaan Nasional, yang salah satu tugas utamanya adakah menakrif dan menciptakan kebahagiaan. Ternyata, meskipun negeri ini menjadikan ajaran Buddha sebagai dasar negara, andaian mereka tentang kebahagiaan memperlihatkan hal-ihwal universal, yaitu keseimbangan antara pembangunan spiritual dan material. Aha, ternyata konsep sedemikian sudah sering kita nyanyikan dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, dalam lirik “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”.

Nah, untuk mewujudkan keseimbangan di atas, ada empat pilar yang harus disediakan, yaitu pembangunan berkelanjutan, pemeliharaan nilai-nilai budaya, perlindungan lingkungan, dan kepemerintahan yang baik. Lebih jauh, komisi ini mensyaratkan delapan penyumbang bagi kebahagiaan, yaitu kesehatan fisik, mental, dan spiritual; kesimbangan waktu; daya hidup sosial dan komunitas; daya hidup budaya; pendidikan; standar kehidupan; pemerintahan yang baik; dan daya hidup ekologis. Semua ini memang disarikan dari ajaran Buddha, tapi pada waktu yang sama, ia didasarkan pada literatur penelitian empiris tentang kebahagiaan, psikologi positif, dan kesejahteraan.

Sederhana dan rumit

Willard Spiegelman menulis Seven Pleasures: Essays on Ordinary Happiness untuk menunjukkan kepada khalayak kebahagiaan bisa dicek dengan kesenangan-kesenangan sederhana, seperti membaca, berjalan, melihat, menari, mendengar, berenang, dan menulis. Sekilas, semua ini tak sulit dilakukan, tapi mengapa kita masih bergelut dengan kehendak agar kita bahagia dengan berkhayal merengkuh apa yang tak ada di tangan? Bagaimanapun kesenangan itu bisa lahir ketika kecerdasan manusia, sebagaimana dinyatakan dalam taksonomi Bloom, meliputi kognitif (pengetahuan), afektif (rasa dan nilai), dan psikomotorik (perilaku), dirawat. Tanpa kecerdasan ini, semua kesenangan ini tak bisa dinikmati dengan riang.

Masalahnya, apakah kita bisa mewujudkan rasa senang tersebut dengan cara yang biasa? Berjalan, misalnya. Di kota besar, itu bisa dilakukan di taman kota, area perumahan mewah atau ruang publik lain yang menyediakan fasilitas untuk berehat. Mari kita lihat Ibu Kota. Adakah ruang publik yang bisa menjadi titik pertemuan warganya untuk menghilangkan penat setelah seharian bekerja? Di sini warga harus membayar untuk menikmati kenyamanan. Malah tempat yang nyaman ini adalah kafe-kafe yang pengunjungnya harus membayar mahal hanya untuk secangkir kopi. Mari kita lihat Malaysia dan Singapura yang menyediakan taman kota, tempat warga bisa bercengkerama dengan nyaman. Meski di Kuala Lumpur kita bisa berbelanja barang mahal di KLCC Suria, di sebelah pusat beli-belah tersebut terdapat taman kota dengan danau buatan dan pepohonan yang teduh. Warga di sana tak perlu merogoh kantong untuk menghirup udara segar dan mengisi waktu luang.

Di tengah keterbatasan ruang untuk memanjakan kesenangan, seperti berjalan dan melihat, kita pun dihantui oleh makin digdayanya media hiburan dan alat “permainan” (gadget). Televisi telah menyihir banyak warga dan mengikis tradisi lokal yang dulu membuat mereka “menari”. Ketika saya masih kecil, warga kampung menghelat tarian saman yang berbalut pujian kepada Tuhan. Dengan saling menggenggam tangan, para peserta naik-turun seiring dengan kor jaggur, sebagai penutup zikir lailaha ilallah yang dibaca berirama khas dan berulang-ulang. Demikian pula, telepon selular dan alat permainan yang lain, seperti iPod dan iPad, telah memalingkan warga dari silaturahmi. Padahal Time mengutip sebuah hasil penelitian baru-baru ini bahwa alat permainan menjadi pemicu timbulnya tekanan (stres) pada penggunanya.

Demikian pula, membaca belum menjadi kebutuhan masyarakat. Buku adalah barang mahal. Begitu juga berenang tak lagi mudah dilakukan. Di kota, warga harus membayar dan di kampung sungai makin cetek. Bandingkan dengan Pulau Pinang, dengan Taman Belia yang menyediakan pelbagai permainan dan kolam renang yang bisa dinikmati secara cuma-cuma. Mungkin hanya mendengar yang bisa dinikmati secara leluasa, karena televisi dan radio setiap saat menghibur orang ramai dengan aneka ragam lagu. Untuk itu, pemangku kepentingan segera merumuskan kebahagiaan yang berdasarkan kepercayaan umum dan kebutuhan konkret, sebagaimana dilakukan oleh negara Bhutan.

Sisi lain

Mungkin yang jamak dipercayai banyak orang, kebahagiaan itu bisa diraih dengan kepemilikan benda. Tak ayal orang ramai berlomba-lomba memuaskan nafsu membeli pelbagai barang. Di sini, kata Neil Postman dalam Matinya Pendidikan: Redefinisi Nilai-nilai Sekolah (2001), orang tak lagi menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tapi tuhan konsumerisme. Slogan kepercayaan ini adalah siapa pun yang mati dengan mainan yang paling banyak, dia adalah orang yang menang. Keadaan ini tak dapat dielakkan karena sejak kecil anak-anak telah terpapar televisi yang dibiayai oleh iklan.

Karena itu, keseharian kita diwarnai pelbagai peristiwa yang lahir dari kehendak orang untuk kaya. Padahal, menurut Daniel Kahneman, orang kaya mungkin mengalami lebih banyak kesenangan dibanding orang miskin, tapi mereka juga memerlukan lebih banyak kesenangan untuk terpuaskan. Gejala seperti ini disebut treadmill hedonis. Untuk mengatasi kecenderungan tersebut, salah satu jalan keluar adalah melalui hubungan persahabatan kaya dengan dorongan untuk saling menyangga. Bersama timnya, Kahneman melakukan penelitian: seribu lebih perempuan yang ditanya soal kebahagiaan, mereka tidak menemukannya pada pekerjaan, status perkawinan, dan pendapatan, melainkan pada hubungan mereka dengan orang lain.

Sejatinya uraian diatas bukan sesuatu yang baru, Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah (dalam Moenir Mulkhan, 2010: 108), mengutarakan tujuan utama ajaran agama itu adalah kebaikan budi pekerti dan kebahagiaan umat manusia. Tentu saja pengertian yang pertama tidak dibatasi pada etika antarmanusia, tapi juga alam. Sementara itu, yang terakhir, kebahagiaan itu wujud jika kebaikan yang hendak dilahirkan tersebut merupakan kebajikan yang bersifat sejagat (universal). Keduanya bertemali, agar kemakmuran sebuah kelompok tidak didapat dengan merusak alam dan menindas yang lain. Untuk itu, tokoh pembaru tersebut mengkritik sebagian besar pemimpin yang menaruh perhatian pada kebaikan dan kesejahteraan kaum dan golongannya sendiri, bukan pada manusia secara umum.

Nah, jika pengertian bahagia bisa dijelaskan dan ia bukan terkait dengan benda, sejatinya setiap individu berpotensi merengkuhnya, dengan syarat semua pihak menjadikan ini tugas dan milik bersama, bukan kelompok tertentu. Seperti lirik salah satu lagu dangdut,” jangan menari di atas luka orang lain.”

Penulis:
Ahmad Sahidah, PhD
(Pengajar Program Pascasarjana IAI Jadid Paiton, Jawa Timur)

Beberapa kutipan tentang kabahagiaan oleh para tokoh dunia:

“Kebahagiaan adalah ketika apa yang anda pikirkan, apa yang anda katakan, dan apa yang anda lakukan berada dalam harmoni.”
(Mahatma Gandhi, Pemimpin India, 1869 – 1948)

“Beberapa menyebabkan kebahagiaan ke mana pun mereka pergi, yang lain kapan pun mereka pergi.”
(Oscar Wilde, Dramawan, 1854 – 1900)

“Merawat kehidupan dan kebahagiaan manusia, dan bukan kehancuran mereka, merupakan obyek pertama dan satu-satunya pemerintahan yang baik.”
(Thomas Jefferson, Mantan Presiden Amerika Serikat, 1743 – 1826)

“Kebahagiaan bukan sesuatu yang siap dibuat. Ia berasal dari tindakan anda sendiri.”
(Dalai Lama, Spiritualis Tibet)

“Konstitusi hanya memberi orang hak mengejar kebahagiaan. Anda harus menangkapnya sendiri.”
(Benjamin Franklin, Politikus Amerika, 1706 – 1790)

“Cinta adalah kebahagiaan yang gemetar.”
(Kahlil Gibran, Penyair Lebanon, 1883 – 1931)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s