Bila kita menengok krisis berbagai bidang yang telah lebih dari 5 tahun di negeri kita tercinta, kini bukannya tambah baik tapi harapan perbaikan semakin menipis. Harga bahan kebutuhan pokok tak terjangkau, sekolah mahal, kesehatan mahal, kerja sulit, banyak bencana alam dari tsunami, gempa, gunung meletus, tanah longsor, banjir (tidak hanya air, bahkan lumpur pun bosan berdiam diri), kriminalitas merajalela dan lain-lain.

Negeri kita yang subur makmur terkena krisis, pasti ada yang salah dalam pengelolaannya. Dan tentu saja Yang punya bumi ini pun meradang. Semua itu bersumber dari masalah kepemimpinan berikut. Bila lihat ikan kita mati, lihatlah kepalanya.

1. Korupsi
Sejak zaman orde baru sampai sekarang, korupsi makin subur, dari atas sampai bawah. Cobalah Anda membuat SIM, KTP, KK atau yang lainnya, pasti ada biaya siluman. Yang lebih besar dari itu, semua orang tahu: negara kita termasuk negara paling korup di dunia.

2. Kolusi
Mau urusan lancar, kolusi jalannya. Tanpa koneksi, mustahil urusan jadi  mudah. Yang sudah jelas bisa dipersulit, apalgi yang sulit. Para pejabat pemerintah berkolusi dengan perusahaan untuk membuat proyek, legislatif kolusi dengan eksekutif untuk menaikkan ‘harga’ UU (persetujuan), dan lembaga peradilan oke-oke saja asal mendapat bagian.

3. Nepotisme
Alias perkoncoan. Anak, saudara, teman diprioritaskan, baik dalam rekruitmen pegawai, lelang proyek, pembagian dana hibah, dll. Akibatnya, kualitas pegawai pemerintah sungguh mengenaskan, hasil proyek mudah rusak, penyebaran dana bantuan tidak merata, dll.

Apa yang bisa kita lakukan? Semua tergantung dari kita, ingin berubah atau tidak. Kita tidak bisa bergantung kepada para petinggi yang sudah tidak punya nurani. Minimal ada dua hal yang bisa kita lakukan:

1. Lakukan pengawasan kepada para penyelenggara negara.
Masyarakat harus kritis terhadap segala perilaku menyimpang oleh eksekutif (pemerintah), legislatif (DPR/D), maupun yudikatif (lembaga peradilan). Mereka berbuat seenak udelnya sendiri karena merasa tidak diawasi. Atau mereka melakukan upaya tutup  mulut dengan politik uang. Agar DPR tidak bersuara, pemerintah mengucurkan uang untuk DPR, dst. Pada saat menjelang Pemilu nanti, jangan heran, pasti akan banyak uang beterbangan di sekitar kita. Jangan terkecoh, mereka hanya membuang sedikit uang yang diambil dari rakyat untuk meraih simpati. Terima saja uangnya karena itu hak Anda, tetapi jangan memihak apalagi pilih mereka, karena mereka adalah koruptor atau calon koruptor sejati. Waspadalah!

2. Pilih pemimpin yang jujur, bersih, berani dan mempunyai kemampuan.
Kita membutuhkan pemimpin yang tahan banting dan mau berkorban. Kita tidak butuh pemimpin yang suka mengorbankan kepentingan rakyat demi perutnya sendiri. Di negara manapun yang maju, pasti ada pemimpin yang hidup sederhana dan dekat dengan rakyat. Di negara manapun yang hancur, pemimpin sangat dekat dengan wong LICIK dan jauh dari wong CILIK.

(Diambil dari buku “7 Golongan yang Ditunggu Sorga” oleh Abu Ahmad, terbitan Qaula)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s