Rakyat Mesir berhasil mengakhiri pemerintahan yang ditentangnya selama ini. Jumat malam waktu setempat, Hosni Mubarak mengundurkan diri dari jabatan sebagai presiden.

Pengunduran diri Mubarak disampaikan Wakil Presiden Omar Suleiman melalui TV nasional.
“Dalam masa sulit yang tengah dialami negara, Presiden Hosni Mubarak telah memutuskan meninggalkan posisi presiden,” kata Suleiman. Dia telah menugaskan Dewan Angkatan Bersenjata Mesir untuk mengarahkan situasi dan kondisi negara seribu Menara ini ke depan.
Jutaan rakyat Mesir yang merindukan pembaharuan di Negara itu merayakan hari bersejarah itu. Di jalan-jalan Kairo, para pengemudi membunyikan klakson untuk merayakan pengunduran diri Mubarak. Ratusan ribu massa yang tumpah ke Lapangan Tahrir untuk semula mengadakan demonstrasi lanjutan, kini bersorak gembira.
Demonstrasi  menumbangkan Mubarak bukan hal mudah. Sepanjang 18 hari warga turun ke jalan. Seratusan warga meninggal dan ratusan lainnya luka-luka, tidak sedikit pula yang ditahan oleh rezim yang berkuasa.
Demo pertama kali terjadi pada Selasa (26/1) lalu. Negeri pemilik terusan Suez ini terinspirasi gerakan revolusi di Tunisia. Mereka menuntut Mubarak mundur dan menginginkan adanya undang-undang yang mencegah seorang presiden berkuasa lebih dari dua periode.
Sepekan kemudian tepatnya 30 Januari, Mubarak menunjuk seorang Wakil Presiden yakni Omar Suleiman. Penunjukan wakil ini merupakan kali pertama selama Mubarak berkuasa. Namun ribuan warga terus menentang dan mendesak tentara untuk bergabung dalam demonstrasi memaksa Mubarak turun dari kekuasannya.
Menurut berbagai perkiraan sekitar 100 orang telah tewas selama seminggu demonstrasi di Mesir. Sumber-sumber medis mengatakan sedikitnya 1.030 orang terluka di Kairo, termasuk di antaranya tiga petugas polisi Kairo.
Mubarak mengatakan, dirinya ingin mengakhiri jabatannya sebagai Presiden Mesir dalam suasana damai, tanpa kekerasan. “Saya menginginkan suasana damai dalam transisi kepemimpinan di Mesir,” ujar Mubarak yang dipancarluaskan lewat media televisi.
Pernyataan ini masih tidak membuat publik puas. Ribuan pendemo yang memenuhi Tahrir Square, Kairo meneriakkan kata “mundur” sesaat setelah pernyataan Hosni tersebut. Para pendemo ini hanya ingin Mubarak menyatakan dirinya mundur dari bangku kekuasaan yang sudah ia duduki selama 30 tahun.
Alih-alih pernyataan mundur, mantan jenderal berusia 82 tahun itu malah menggambarkan dirinya sebagai patriot yang akan mengawal masa transisi hingga pemilihan umum, September mendatang. Semula, semua pendemo terdiam saat Hosni memulai pidatonya. Namun, teriakan kemarahan langsung tumpah yang akhirnya berhasil memaksa Mubarak turun tahta.
Sementara ini tampuk kekuasaan  kini  berada di tangan Majelis Tertinggi Militer  yang dipimpin Menteri Pertahanan Muhammad Hussein Tantawi.

Tulisan asli:

http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&task=view&id=55012&Itemid=55

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s